Dalam badai keramaian, jiwa itu masih terselimut kabut kesendirian.
Hatipun laksana merpati tanpa sayap, seharusnya ia bisa kemanapun yang ia mau, tapi tanpa sayap ia tak tau arah hidup. Bahkan tak ada kehidupan dalam benak hatinya.
Dalam kesepian yang merenggutnya, ia hanya bisa merenung melamunkan kisah hidup yang ia punya.
Terhempas dari sebuah keluarga Harmonis, ia hilang tenggelam terbawa angin kesendirian.
Ia laksana insan yang tak diinginkan untuk hadir kedunia yang menurutnya adalah kefanaan belaka.
Cerita tanpa kemanisan pun tergores curam dalam relung jiwa.
Angan dan pikiran pun telah putus asa, tak tahu arah kehidupan mana yang akan ia tempuh.
Tapi satu hal yang ia punya yaitu tekad, tekad bahwa hidup itu harus di syukuri, di nikmati, di hayati, dan di benahi. Dari tekat itulah ia sampai sekarang bisa hidup dengan kehidupan yang ia inginkan.
Nasib sering ditentukan oleh kehidupan, tapi kehidupan ditentukan oleh hidup kita sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar